Kusambut Izrail dengan Senyuman

Hakikat hidup manusia yaitu “Hidup adalah perjalanan“. Jika hidup adalah perjalanan, maka kita harus mengetahui apa itu perjalanan. Di dalam perjalanan pasti ada 2 hal yg terjadi yaitu meninggalkan dan menuju. Seperti saat kita berpergian ke Jakarta, maka harus meninggalkan Jogja kemudian menuju Jakarta. Sehingga, hakikat perjalanan hidup kita adalah “meninggalkan dunia, menuju akhirat“.

Ada 4 macam/golongan manusia dalam perjalanan hidup kita:

1. Meninggalkan dunia tetapi tidak menuju akhirat.

Contoh:

-Orang yang menjalani ibadah, tetapi niatnya bukan untuk akhirat. Misalkan orang naik haji tapi niatnya bukan untuk ibadah, tetapi agar mendapat gelar haji.

-Orang yang puasa (meninggalkan dunia makan) tetapi niatnya tidak untuk akhirat.

2. Menuju akhirat tetapi tidak meninggalkan dunia. Hal ini diibaratkan seperti ingin pergi ke Jakarta tetapi tidak mau meninggalkan Jogja.

Contoh:

– Orang yang melaksanakan sholat, tetapi ketika sholat yang diingat hanya dunia terus.

– Orang yang bersedekah, tetapi dia selalu mengingat-ingat apa yang ia sedekahkan.

3. Tidak meninggalkan dunia dan tidak menuju akhirat

Contoh: Orang yang tidak pernah sholat ditambah lagi pikirannya dunia terus.

4. Meninggalkan dunia, menuju akhirat

Golongan keempat ini memiliki ciri dan kriteria:

a. Memandang akhirat lebih berharga dan lebih menarik daripada dunia.

Contoh: Seseorang sedang menonton TV, kemudian ia mendengar adzan. Ia langsung mematikan TV dan bergegas untuk sholat.

b. Bersemangat untuk menjadikan dunia yang ada selalu punya nilai akhirat.

Contoh:

– Mata kita gunakan untuk memandang ayat-ayat Al-Quran.

– Telinga kita gunakan untuk mendengar hal-hal yang baik.

Handphone kita gunakan untuk berdakwah.

– Media sosial kita gunakan untuk memposting postingan yang bermanfaat. Dan lain-lain

c. Menerima dengan lapang saat harus berpisah dengan dunia yg ada.

Contoh: Ikhlas ketika barang berharga kita hilang. Toh, segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah kepunyaan-Nya kan ?

Jika kita menjalankan ketiga kriteria tersebut, mungkin belum akan kita rasakan manfaatnya. Namun, manfaat itu akan kita rasakan saat malaikat maut menjemput.

  • Orang yang memandang akhirat lebih berharga daripada dunia maka akan merasa tenang saat malaikat maut menjemput.
  • Orang yang bersemangat untuk menjadikan dunia yang ada selalu punya nilai akhirat maka ketika ia dijemput Izrail. Tidak ada yg dia sebut kecuali Allah. Ia akan selalu ingat Allah dan Allah akan memudahkan kita untuk ingat Allah.
  • Orang yang menerima dengan lapang saat harus berpisah dengan dunia yg ada maka Allah akan karuniakan kita rasa Ikhlas. Ikhlas meninggalkan dunia yang ada.

Tabiat hidup kita adalah: “As-Shira bainal haq wal bathil”

Artinya selalu ada pertarungan antara haq dan batil.

  1.  Pertarungan yang terjadi di luar diri kita
  2. Pertarungan yang terjadi di dalam diri kita.

Allah berfirman pada surat As-Syams ayat 8:

Maka kami ilhamkan pada jiwa manusia sifat fujur dan taqwa

Wujud dari kekuatan fujur adalah nafsu, sedangkan wujud dari kekuatan taqwa ada 3: akal, hati, dan jiwa.

Akal, hati, dan jiwa melawan nafsu. Tiga dibanding dengan satu. Jika dilogika siapa yang akan menang? Tentunya adalah taqwa (akal, hati, dan jiwa)

Namun, justru ini titik lemah. Taqwa akan menang ketika akal, hati, dan jiwa bersatu. Jika ketiganya tidak bersatu maka yang terjadi adalah nafsu akan menguasai diri kita. Jika sudah seperti itu, perjalanan hidup kita tidak meninggalkan dunia dan tidak menuju akhirat.

Jika diberikan definisi, maka:

  • Akal adalah sosok yang membuat manusia ingin melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
  • Hati adalah sosok yang membuat manusia ingin melakukan yang terbaik untuk orang lain.
  • Jiwa adalah sosok yang membuat manusia ingin melakukan yang terbaik untuk Allah.
  • Nafsu adalah sosok yang membuat manusia ingin melakukan yang terbaik untuk setan.

Bagaimana kita memanage keempatnya? –

  • Berbuatlah sepenuh akal untuk semua kepentingan kita, tapi waspadailah bisikan nafsu yang bisa membuat kita berlaku dzalim atas nama akal (diri sendiri)
  • Berbuatlah sepenuh hati kita untuk kepentingan orang lain (ketika kita menolong orang lain maka gunakanlah hati, jangan menggunakan akal) , tapi waspadailah bisikan nafsu yang bisa membuat kita merasa berjasa. Dalam kepentingan pribadi yang ada kebaikannya untuk org lain, maka letakkan hati di atas akal.

Contohnya: ketika kita ingin membeli suatu barang, lalu tepat saat giliran kita stok barang tersebut sudah habis maka kita harus sabar dan lapang.

  • Ridha Allah harus kita letakkan di atas. Mengejar kepentingan pribadi yang bisa membawa kita melabuh damai dalam rengkuhan ridha Allah SWT.

Contoh: Kita mencari nafkah dengan cara yang halal yang Allah sukai. Untuk mendapatkan ridha Allah letakkan jiwa di atas hati dan akal, tetapi waspadailah nafsu yang bisa membuat kita terjatuh dalam kubangan riya’.

PENUTUP

Jika kita sudah memahami bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara, maka kita akan mementingkan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia. Jika sudah seperti itu maka malaikat Izrail ibarat ojek kita yang akan mengantar kita dari alam dunia menuju alam akhirat akan kita sambut dengan senyuman.

Disampaikan oleh: Ustadz Syatori

Ditulis oleh: Irma Yuliana Nurmalasari

Sabtu, 31 Desember 2016

Islamic Book  Fair @GOR UNY jam 20.00-21.30 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s