Masih enggankah untuk berdakwah ? [KONSEP DAKWAH]

Bismillahirrahmanirrahim

Di dalam surat Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa manusia merupakan khalifah di bumi.

Ayat dalam Al-Quran yang turun pertama kali adalah Al-Alaq.

“Iqra’ bismirabbikallazi khalaq”

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.

Kita manusia sebagai khalifah di bumi diperintahkan untuk membaca. Mengapa? Karena seorang khalifah harus cerdas. Tugas seorang khalifah yang utama adalah berdakwah. Berdakwah dengan mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Dakwah bukan hanya profesi seorang ustadz atau ulama, tetapi profesi kita semua.

Seringkali kita melihat fenomena-fenomena di sekitar kita, banyak orang yang berkata:

“Nggak usah sok suci deh, perilakumu belum bener juga”

“Aah ngapain sih dakwah? Ilmuku juga belum banyak.”

Hal seperti inilaih yang mengakar kuat pada masyarakat Indonesia, sehingga hanya segelintir orang saja yang mau berdakwah. Ingat kawan ! Tidak ada orang yang sempurna di bumi ini, kawan. Kalau kita menunggu baik dulu lalu berdakwah. Kapan kita akan menjadi baik ? Padahal kesempurnaan hanyalah milik Allah. Oleh karena itu, kita memperbaiki diri sambil mengajak orang lain memperbaiki diri,

Coba bayangkan, bagaimana jika Rasulullah SAW pada zaman itu tidak berdakwah? Bagaimana jika Beliau menyimpan sendiri dalam hati ajaran Allah? Tentunya kita pasti tidak akan merasakan nikmatnya iman dan islam saat ini. Mungkin dunia ini mengalami zaman kejahiliyahan hingga sekarang. Padahal jika kita mengetahui pahala orang-orang yang berdakwah itu sangat luar biasa. Pahala orang berdakwah yaitu lebih baik dari dunia seisinya dan lebih besar dari  apapun yang disinari matahari.

Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib:

“Demi Allah, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim & Ahmad).

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa:

“Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”

Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seseorang yang menyampaikan hidayah kepada orang lain adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah SWT, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.

Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:

“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya).” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah swt memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).

Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini? Banyak sekali pahalanya, bukan?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”.

Misalnya kita ngajak teman kita untuk sholat dhuha pada saat istirahat. Kemudian, teman kita melaksanakan sholat dhuha maka kita akan mendapatkan pahala kebaikan teman kita tersebut dan pahala diri kita sendiri. Coba jika kita mengajak 10 orang atau mungkin 100 orang. Berapa banyak pahala yang akan mengalir pada diri kita ?

Dakwah ini merupakan ladang pahala yang sangat besar. Masih enggankah antum untuk berdakwah ?

“Aah, tapi aku nggak percaya diri ngomong di depan orang banyak.”

Berdakwah tidak melulu harus dengan ceramah/ naik ke atas mimbar. Itu hanya salah satu dari berbagai macam metode dakwah. Metode dakwah yang lainnya yaitu misalnya kita mengajak keluarga kita untuk sholat bersama-sama ke masjid/puasa sunnah bersama, menghampiri teman kita untuk sholat/ikut kajian, berdakwah dengan cara menulis/menggambar/mendesain poster, berdakwah dengan memanfaatkan media sosial, dan lain-lain. Kita juga bisa berdakwah melalui perbuatan/tingkah laku kita, misalkan yang ikhwan dengan rajin sholat ke masjid, sedangkan yang akhwat mengenakan busana syar’i. Insyaa Allah secara tidak langsung kita akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang kita lakukan.

Tidak sampai situ saja kawan…

Adakalanya, ketika kita berada dalam lingkaran dakwah (Rohis, LDF/LDK, remaja islam di kampung, dll) satu per satu teman-teman kita mulai lepas, kemudian menghilang dan tidak pernah kembali. Mereka keluar dari lingkaran tersebut. Yeah, mereka terkena godaan setan karena setan sudah berjanji untuk menggoda manusia hingga hari kiamat datang. Ketika kita duduk di barisan dakwah dan lingkungan yang baik, kita akan menjadi incaran setan. Ketika kita berada dalam lingkaran yang bernama ukhuwah islamiyah, setan akan merasa  susah sekali menggoda manusia karena di dalamnya terdapat orang-orang yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Setan akan terus berusaha dan tidak pernah menyerah untuk membuat kita keluar dari lingkaran itu.

Dengan apa ? Dengan rasa malas, salah paham antara satu sama lain, dan lain-lain. Kita sebagai sahabat hendaknya menjaga teman-teman kita untuk tidak keluar dari lingkaran itu.

Itulah mengapa, dakwah merupakan kewajiban setiap manusia. Profesi setiap umat manusia. Terdapat dua jenis da’i (orang yang berdakwah):

  1. Seorang da’i yang mengajak kebaikan dan orang yang diajak semakin dekat dengan Allah.
  2. Seorang da’i yang mengajak kebaikan akan tetapi orang yang diajak semakin jauh dari Allah.

Nomor 2 bisa saja terjadi ketika kita salah dalam menerapkan metode dakwah. Misalkan, sudah adzan tetapi adik kita belum sholat, lalu kita sebagai kakaknya menyuruh dia sholat namun dengan kata-kata yang salah.

“Heh, kamu ini udah adzan malah gak segera sholat !! Jadi temennya setan aja sana!! Masuk neraka!!”

Niatnya sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang salah. Sehingga, adik kita mungkin tidak suka dengan kita, ditambah lagi maksud dakwah kita tidak tersampaikan dengan hikmah. Jadi, dalam menyampaikan pesan dakwah harus disampaikan dengan kata-kata yang cerdas, indah, dan penuh hikmah. Dek, udah adzan nih sholat berjama’ah di masjid bareng yuk, ntar habis sholat kakak buatkan makanan kesukaanmu deh.”  atau “Dek, udah adzan nih sholat berjama’ah di masjid bareng yuk, pahalanya 27x lipat nih. Supaya kita bisa masuk surga bareng-bareng.” 

Teringat sebuah kata-kata yang sempat muncul di timeline :

Dakwah itu mengajak bukan mengejek, mengajar bukan menghajar, membina bukan menghina, mencintai bukan mencaci, dan menasihati bukan menusuk hati.

Terakhir hal yang paling penting, ketika kita berdakwah jangan sombong. Merasa diri kita paling benar dan meremehkan orang lain. Namun, saling menghargai dan mendengarkan jika ada perbedaan pendapat.

 

Disampaikan oleh : Ustadz pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Baiturrahman, Condong Catur (saya lupa namanya)

Ditulis oleh : Irma Yuliana Nurmalasari

Sabtu, 8 Oktober 2016.

Latihan Kepemimpinan #1 Jama’ah Muslim Geografi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s